Tampilkan postingan dengan label Krisis Global. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Krisis Global. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 November 2008

Investasi Emas : Koin Dinar, Emas Lantakan Atau Emas Perhiasan ?

Hujan yang mulai mengguyur kota Surabaya pada beberapa hari terakhir tetap tidak menyurutkan anggota perkopen untuk nyangkruk di Warung Kopi Giras Wak Doso. Bahkan akhir-akhir ini warung kecil yang terletak di kawasan Simomagerejo itu mendapat pelanggan baru. Penambahan pelanggan ini berbanding lurus dengan upaya Wak Doso yang mulai berlangganan TV berbayar AORA.

Sejak ASTRO bangkrut anggota perkopen yang sebagian besar pecinta Liga Inggris berpaling ke AORA, tapi karena tidak mungkin mereka memasang di rumah sendiri, untuk sementara mereka nunut di Warung Wak Doso. “Gak popo rek larang-larang thithik, itung-itung njaring pelanggan,” kata Wak Doso sedikit berfilosofi tentang bisnis warungnya, ketika ditanya Yudi Gembul salah satu pelanggan tetap Kopi Giras tentang keberaniannya berlangganan AORA.
Yudi Gembul pun manggut-manggut mendengar jawaban Wak Doso, sang wartawan ini pun membenarkan pendapat pria berkumis asal Kecamatan Dukun Gresik itu. Dengan adanya Warung Wak Doso Yudi Gembul semakin bertekad tidak akan berlangganan AORA meskipun dia sebenarnya kepingin pasang. “Gae opo pasang dewe nang omah, wong onok nang warunge Wak Doso,” kata Yudi dalam hati.
Rintik hujan yang saat itu mengguyur sebagian kota Surabaya tak menyurutkan para pelanggan warung berdatangan, satu demi satu mereka pun mulai datang dan nyangkruk, nyruput kopi giras dan menikmati gorengan yang hot from the wajan.
Setelah sekian lama suasana hening, karena semua menikmati siarang langsung Liga Inggris, Cak Pri si juragan becak mulai membuka obrolan. “Mas situasi seperti ini enaknya investasi opo? Tanya Cak Pri kepada Yudi Gembul. “Duwitmu piro Cak? Kok takon-takon investasi,” sergah Wak Doso, sebelum Yudi menjawab. “Yo gak akeh cak, tapi nek kanggo tunggu becak 50 ae isok,” jawab Cak Pri lalu nyruput kopi girasnya.
Yudi Gembul sedikit kaget dengan pertanyaan Cak Pri ini, bukannya dia tidak bisa menjawab tapi keinginan Cak Pri ber-investasi itu yang membuat dia terheran-heran. Di bandingkan dengan dirinya yang seorang wartawan dan tidak kepikiran untuk investasi karena memang tidak punya dana untuk di-investasikan, Yudi salut dengan pola pikir juragan becak asal Desa Ngabetan Cerme Gresik itu.
Sambil nyuwil gedhang gorengnya, Yudi Gembul pun mulai memberi kuliah. “Sing enak tukokno emas Cak,” jawab Yudi. "Jangan taruh semua telur dalam satu keranjang". Pastikan investasi sampeyan dalam beberapa portofolio investasi. Dan pastikan juga Emas Lantakan sebagai bagian dari strategi portofolio investasi, selain saham, obligasi, tanah dan mata uang,” tambahnya, yang membuat bingung Wak Doso, para perkopen, apalagi Cak Pri setelah mendengar uraian Yudi dengan istilah-istilah asingnya. Sejarah membuktikan bahwa emas dinilai tidak memiliki efek inflasi (zero inflation effect). Seperti Dirham & Dinar yang berbasis emas dianggap stabil dan mempunyai nilai yang riil.
“Dengan kemajuan teknologi, pelaku pasar tidak mau kehilangan kesempatan (opportunity) yang sering dihadapi dalam melakukan transaksi, sehingga mereka beropini bahwa investasi emas sangat likuid (cash equivalen) yang menjadikan mereka menjadi lebih dipercaya di kalangan pelaku pasar sendiri maupun di lembaga keuangan. Diprediksikan bahwa lembaga keuangan di masa mendatang, selain lebih percaya kepada pelaku pasar yang berinvestasi emas, juga akan memberikan pinjaman (loan) dengan bagi hasil yang bersaing dibandingkan dengan collateral (jaminan) lainnnya. Dan dimasa mendatang dimana penjaminan pemerintah mulai berkurang atas simpanan (tabungan) pada lembaga keuangan bank, maka jika sampeyan punya duit segeralah beli emas sebelum resiko datang.
Teori Scarcity (Kelangkaan)
Di beberapa negara telah dijumpai penurunan produksi emas. Hal ini merupakan adanya peningkatan kelangkaan (scarcity) terhadap sumber daya emas dunia. Sedangkan permintaan emas di beberapa negara semakin hari semakin bertambah. Hal ini merupakan salah satu faktor naiknya harga emas,” jlentreh Yudi. “Oke Mas, aku mau beli emas, tapi sing koyok opo: Koin Dinar, Emas Lantakan Atau Emas Perhiasan ?” sambung Cak Pri.
Tak mau kalah dengan Yudi Gembul, Wawan yang ngakunya mahasiswa FE Unair ikut-ikutan njawab:
“Ketiga-tiganya tentu memiliki kesamaan karena bahannya memang sama. Kesamaan tersebut terletak pada keunggulan investasi tiga bentuk emas ini yaitu semuanya memiliki nilai nyata (tangible), senilai benda fisiknya (intrinsic) dan dan nilai yang melekat/bawaan pada benda itu (innate). Ketiga keunggulan nilai ini tdak dimiliki oleh investasi bentuk lain seperti saham, surat berharga dan uang kertas.
Default value (nilai asal) dari investasi emas tinggi – kalau tidak ada campur tangan berbagai pihak dengan kepentingannya sendiri-sendiri otomatis nilai emas akan kembali ke nilai yang sesungguhnya – yang memang tinggi.
Sebaliknya default value (nilai) uang kertas, saham, surat berharga mendekati nol , karena kalau ada kegagalan dari pihak yang mengeluarkannya untuk menunaikan kewajibannya –uang kertas, saham dan surat berharga menjadi hanya senilai kayu bakar.
Nah sekarang sama-sama investasi emas, mana yang kita pilih ? Koin Emas, Emas Lantakan atau Perhiasan ? Dengan singkat Wawan pun memberikan penjelasan.

Kelebihan Dinar :
1. Memiliki sifat unit account ; mudah dijumlahkan dan dibagi. Kalau kita punya 100 Dinar – hari ini mau kita pakai 5 Dinar maka tinggal dilepas yang 5 Dinar dan di simpan yang 95 Dinar.
2. Sangat liquid untuk diperjual belikan karena kemudahan dibagi dan dijumlahkan di atas.
3. Memiliki nilai da’wah tinggi karena sosialisasi Dinar akan mendorong sosialisasi syariat Islam itu sendiri. Nishab Zakat misalnya ditentukan dengan Dinar atau Dirham - umat akan sulit menghitung zakat dengan benar apabila tidak mengetahui Dinar dan Dirham ini.
4. Nilai Jual kembali tinggi, mengikuti perkembangan harga emas internasional; hanya dengan dikurangkan biaya administrasi dan penjualan sekitar 4% dari harga pasar. Jadi kalau sepanjang tahun lalu Dinar mengalami kenaikan 31 %, maka setelah dipotong biaya 4 % tersebut hasil investasi kita masih sekitar 27%.
5. Mudah diperjual belikan sesama pengguna karena tidak ada kendala model dan ukuran.

Kelemahan Dinar :
1. Di Indonesia masih dianggap perhiasan, penjual terkena PPN 10% (Sesuai KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 83/KMK.03/2002 bisa diperhitungkan secara netto antara pajak keluaran dan pajak masukan toko emas maka yang harus dibayar ‘toko emas’ penjual Dinar adalah 2%).
2. Ongkos cetak masih relatif tinggi yaitu berkisar antara 3% - 5 % dari nilai barang tergantung dari jumlah pesanan.

Kelebihan Emas Lantakan :
1. Tidak terkena PPN
2. Apabila yang kita beli dalam unit 1 kiloan – tidak terkena biaya cetak.
3. Nilai jual kembali tinggi.

Kelemahan Emas Lantakan :
1. Tidak fleksibel; kalau kita simpan emas 1 kg, kemudian kita butuhkan 10 gram untuk keperluan tunai – tidak mudah untuk dipotong. Artinya harus dijual dahulu yang 1 kg, digunakan sebagian tunai – sebagian dibelikan lagi dalam unit yang lebih kecil – maka akan ada kehilangan biaya penjualan/adiminstrasi yang beberapa kali.
2. Kalau yang kita simpan unit kecil seperti unit 1 gram, 5 gram, 10 gram – maka biaya cetaknya akan cukup tinggi.
3. Tidak mudah diperjual belikan sesama pengguna karena adanya kendala ukuran. Pengguna yang butuh 100 gram, dia tidak akan tertarik membeli dari pengguna lain yang mempunyai kumpulan 10 gram-an. Pengguna yang akan menjual 100 gram tidak bisa menjual ke dua orang yang masing-masing butuh 50 gram dst.

Kelebihan Emas Perhiasan :
1. Selain untuk investasi, dapat digunakan untuk keperluan lain – dipakai sebagai perhiasan.

Kelemahan Perhiasan :
1. Biaya produksi tinggi
2. Terkena PPN
3. Tidak mudah diperjual belikan sesama pengguna karena kendala model dan ukuran.

Dari perbandingan-perbandingan tersebut, kita bisa memilih sendiri bentuk investasi emas yang mana yang paling tepat untuk kita,” terang Wawan panjang lebar.
Sejenak Warung Wak Doso hening setelah mendengar uraian Wawan, si mahasiswa tapi gak pernah kelihatan berangkat kuliah karena isuk, awan, bengi, kerjanya ngopi thok. “Yok opo Cak, tertarik tah tuku emas,” tanya Wak Doso kepada Cak Pri memecah keheningan. “Iyo Cak aku tertarik tuku emas, sing jadi pertanyaan nek aku tuku emas agak banyak terus tak simpan nang endi, wong omahku penuh becak, ojok maneh brankas, lemari kayu ae gak onok,” jawab Cak Pri. Mendengar jawaban Cak Pri ini warung kembali hening, tidak ada yang berani membuka omongan hanya suara rintik hujan saja yang menjadi backsound Warung Kopi Giras Wak Doso. (*)
.

Readmore »»

Selasa, 21 Oktober 2008

Krisis di Depan Mata? Siapa Takut


Jagoan pun akhirnya bisa tergelincir, seperti pepatah di rimba persilatan di atas langit ada langit, apa yang terjadi sekarang ini (krisis global) yang bermula dari Negeri Jagoan Paman Sam merupakan gambaran yang gamblang.

Jagoan-jagoan di sektor keuangan pun akhirnya gulung kuming, seorang investor atau lembaga investasi yang hebat pun akhirnya juga merasa akibatnya ketika Paman Sam terpuruk. Soal keuangan, perbankan, perekonomian sebenarnya bisa dihitung dari awal, tapi sifat tamak dan sombong manusia membuat hitungan itu akhirnya jadi berantakan. Yang paling aman itu mengalir saja seperti air tapi jangan terlalu hanyut, kadang-kadang juga harus ikut menentukan aliran air itu.
Krisis global katanya dalam waktu dekat juga akan membuat perekonomian Indonesia susah lagi. Tidak bisa kita bayangkan bagaimana susahnya menjalani hidup nantinya. Tapi jangan khawatir, apa yang disebabkan ulah manusia itu pasti akan ada batasnya. Artinya krisis pasti akan berlalu, tergantung kita sendiri cepat atau lambat kita bisa lepas dari krisis itu. Namun tidak ada salahnya bila kita bersiap payung sebelum hujan atau pelampung agar tidak terseret krisis lebih jauh.
Berikut ini tips-tips untuk menghadapi krisis global yang kabarnya akan membuat Resesi Ekonomi Dunia terjadi :

1.Kalau punya duit banyak hindari membeli Aset yang berbasis USD . Dalam pengertian ekonomi kapitalistik, aset bisa diartikan saham dan mata uang. Contoh aset yang sangat terkait dengan USD : saham perusahaan bluechip di pasar Paman Sam.
2.Saat ini untuk sementara hindari memegang aset-aset kertas seperti saham, obligasi, dsb yg merupakan infrastruktur “bubble ekonomi” Utamakan memegang aset-aset bernilai fundamental yang real namun liquid, seperti emas, atau logam mulia lainnya, misalnya berlian kalau perlu belikan saja akik (seperti Wak Doso, meskipun hanya bos Warung Giras, harga akiknya minimal Rp 50 juta).
3.Banyak orang bilang emas saat ini sudah mahal harganya. Tapi dengan adanya krisis keuangan saat ini, emas diperkirakan akan terus naik harganya. Kalau harganya turun gak masalah, kan masih bisa dibuat mejeng. Coba kalau kita punya saham, kalau harganya turun mosok kita ke mana-mana bawa kertas saham itu.
4.Usahakan untuk tetap liquid selama masa krisis. Liquid artinya, dengan mudah anda mencairkan aset anda pada saat membutuhkan. Kapan anda membutuhkan likuiditas? saat harga aset (saham, tanah, properti, dsb) mencapai titik terendah!, saat itulah waktu yg tepat untuk melakukan pembelian aset besar-besaran!. Beli saja tanah, rumah, apartemen, villa atau resor tapi yang sudah jadi alias jangan membeli yang masih dalam tahap pembebasan tanah.
5.Pantau terus trend penurunan harga-harga saham di pasar saham dunia untuk memperoleh titik terendah/saat-saat recovery yang anda tunggu-tunggu. Saat recovery adalah saat di mana anda melakukan pembelian aset-aset kembali yg sudah berharga murah untuk memperoleh capital gain yg luar biasa.
6.Hindari hutang-hutang pribadi. Utamakan untuk melunasi hutang anda dengan segera. Saat ini seluruh lembaga keuangan (bank, dsb) ingin meningkatkan likuiditasnya (salah satu caranya adalah dengan menaikan suku bunga). Kalau memang belum bisa bayar, ya alasan saja terkena krisis. Atau bilang: “Orang itu mbak/pak pasti tidak lupa kalau punya utang. Cuma bayarnya itu yang lupa”
7.Perketat pengeluaran anda. Pengeluaran anda harus lebih kecil dari pemasukan anda. Rumuskan rencana belanja rumah tangga anda dengan baik. Kalau biasa ngopi di Sinar Bintoro yang sekarang harganya sudah ikut-ikutan naik kayak kertas, pindah saja ke warungnya Wak Doso dijamin rasanya tidak ada bedanya.
8.Untuk sementara hindari kredit (hutang) jangka panjang baru seperti kredit perumahan, dsb. Tapi kalau ada yang nawari ya terima saja, bayarnya nanti dipikir-pikir lagi.
9.Persiapkan dana krisis, yang hanya anda gunakan apabila krisis ekonomi benar-benar parah terjadi. Misalnya rumah atau tanah warisan siap-siap dilego. Yang penting jangan pergi ke dukun untuk melipat gandakan uang atau ikut-ikutan Yudi Gembul dan Aa' Jos yang sekarang sudah mulai tertarik dengan Ketik REG SPASI PRIMBON.
10.Dan yang paling penting, jangan meninggalkan Allah SWT di saat senang kemudian ketika tertimpa krisis tiba-tiba masjid, musholah, surau, gereja, vihara, klenteng jadi ramai semua berdoa ingin selamat dari krisis. (*)

Readmore »»

Minggu, 12 Oktober 2008

Bank Tak Punya Salah, Jangan Jadi Korban


Pemerintah rupanya ingin membuat langkah kuda: di satu pihak menyelamatkan negara dari krisis yang melanda dunia, di lain pihak ingin memanfaatkan krisis ini untuk keuntungan Indonesia. Memang krisis ini sebenarnya krisisnya negara kaya. Posisi Indonesia agak kuat kali ini. Terutama perbankannya. Ada dua hal yang membuat bank-bank di Indonesia akan selamat dari krisis ini.
Pertama, sejak krisis moneter 1997 bank-bank di Indonesia sudah sangat prudent –hati-hati. Ratio-ratio keuangannya sangat baik. Bahkan tiga tahun lalu sempat terjadi semua bank seperti kelebihan uang.
Kalau saja pemerintah tidak mengeluarkan kebijaksanaan yang hebat saat itu, bisa jadi akan banyak kelebihan uang yang ditanam di luar negeri. Namun pemerintah yang melihat gejala kelebihan uang itu segera mengeluarkan SUN –surat utang negara. Bunganya juga menarik. Maka kelebihan uang tersebut lebih banyak dibelikan SUN.
Meski negara sama-sama punya utang, terbukti bahwa punya utang kepada rakyatnya sendiri (melalui SUN) lebih baik dari pada punya pinjaman luar negeri. Kebijaksanaan pemerintah keluar dari IMF, secara tidak sengaja ternyata membawa berkah yang luar biasa manfaatnya saat terjadi krisis keuangan dunia saat ini.
Memang pemerintah sebaiknya lebih fokus menjaga agar perbankan dan system keuangan negara tetap sehat. Kalau perbankan yang terkena, maka seluruh system ekonomi akan bahaya. Termasuk rakyat kecil yang tidak ada hubungannya apa-apa dengan krisis keuangan sekarang ini. Tentu bursa saham juga harus diperhatikan, namun prioritasnya tetap pada menjaga perbankan nasional.
Kali ini bank tidak punya salah apa-apa. Jangan sampai ikut jadi korban. Di masa lalu, ketika terjadi krisis moneter tahun 1997 memang banyak sekali kesalahan bank. Terutama pemilik bank yang hanya memanfaatkan banknya untuk kepentingan grup perusahaan sendiri. Kini yang seperti itu tidak ada karena peraturannya tidak memungkinkan lagi. Kita sudah belajar dengan baik dari krismon yang lalu.
Kini yang punya salah besar adalah pasar modal dengan system penggelembungannya. Yang menggelembung itulah yang kini kempes. Jangan sampai bank ikut kempes karena fokus perhatian pemerintah yang tidak tepat.
Meski tidak ikut salah, tapi tetap saja orang bank akan was-was terkena imbas. Terutama kalau masyarakat tidak bisa membedakan di mana inti dari krisis kali ini. Tidak ada yang hatinya lebih berdebar daripada para pimpinan bank pagi ini. Sebuah bank, sekuat apa pun, tidak akan tahan bila diguncang rush –semua penabung mengambil uang dalam waktu serentak.
Itulah perlunya pemerintah menjamin para nasabah, terutama pemilik tabungan dan deposito. Penjaminan ini pasti tidak akan lama. Hanya sampai masyarakat tenang kembali saja. Apalagi kini sudah terhimpun dana Rp 6 triliun yang disetor bank-bank dalam rekening penjaminan. Artinya, bank-bank sendiri sudah punya dana khsusus untuk menghadapi masalah ini, meski penggunaannya harus diputuskan oleh pemerintah dan Bank Indonesia.
Ibaratnya, pemerintah kini memang harus menjaga dua pasar: pasar modal dan pasar Tanah Abang. Yang dimaksud Pasar Tanah Abang adalah sebuah kiasan bahwa sektor riel-lah yang harus dijaga agar tidak ikut kacau. Cara menjaga “Tanah Abang” yang terbaik adalah menjaga berlangsungnya system keuangan dan perbankan dengan normal.
Lalu bagaimana dengan rencana pemerintah untuk melakukan buy back saham-saham yang di masa lalu dilepas ke pihak asing? Kalau itu bisa dilakukan, tentu sebuah prestasi yang luar biasa. Bisa keluar dari IMF dan kemudian bisa membeli kembali perusahaan yang dijual murah di masa lalu, tentu cita-cita yang mulia.
Tapi rencana itu sebaiknya jangan dilakukan secara emosional. Harus dihitung benar kemampuan pendanaannya. Memang beberapa BUMN sudah siap dengan dana sampai Rp 12 triliun untuk membeli saham yang lagi murah itu. Tapi harus dihitung juga bagaimana format APBN tahun 2009. Jangan sampai buy back dipaksanakan yang akhirnya akan mengorbankan format APBN tahun depan.
Maksud saya, kalau sudah benar-benar dihitung bahwa sumber-sumber pendapatan untuk APBN tahun depan sudah jelas, barulah buy back dilakukan. Sebab mengharapkan jual SUN lagi dalam jumlah besar akan sulit. Cari pinjaman luar negeri kepada siapa akan pinjam: semua negara lagi susah.
Tentu harus dihitung benar apakah bursa saham sudah “sembuh” pertengahan tahun depan. Kalau ada yang memastikan seperti itu, buy back akan sangat baik. Sekarang beli murah, pertengahan tahun depan dijual lagi untuk menambal APBN. Bahayanya: kalau ternyata harga saham belum sembuh, APBN bisa berbahaya. (catatan Dahlan Iskan diambil dari Harian Radar Surabaya).
.

Readmore »»

Sabtu, 11 Oktober 2008

Krisis Global dan Olahraga


Krisis global kata para pengamat ekonomi sudah diambang pintu, ada yang berpendapat krisis itu juga akan mempengaruhi dunia sepakbola yang sekarang ini sudah menjadi sebuah industri baru, tapi dari kalangan bola sendiri mereka optimistis bisa melewati krisis itu.

Salah satu di antaranya sudah didengungkan Real Madrid yang mengaku tidak terpengaruh dengan adanya krisis yang diawali dari Amerika Serikat ini. Namun demikian berbeda dengan Real Madrid persepakbolaan Inggris menjadi sangat khawatir.
Persepakbolaan Inggris, yang tengah menikmati masa indah mereka karena masuknya investor-investor asing, kini mulai khawatir. Krisis kredit keuangan yang terjadi di Amerika dan Eropa diperkirakan bakal menggerus mesin uang Liga Premier.
Beberapa tanda sudah bermunculan. Pemilik West Ham United sekaligus presiden klub, Bjorgolfur Gudmundsson, tengah mengalami resesi keuangan setelah bak miliknya di Islandia, Lanksbanki, dinasionalisasi dan dia dipecat dari direksi. Meski West Ham tak perlu risau karena sumber keuangan Gudmundsson tersebar di banyak industri.
Hal yang sama juga dirasakan ManYoo yang selama ini disponsori AIG, perusahaan asuransi Amerika Serikat yang juga nyaris bangkrut. Setali tiga uang, Liverpool yang dimiliki duo pengusaha Amerika Serikat juga mulai khawatir pasokan dana mereka yang ternyata sebagian besar didapatkan dari utang, bakal menghantam klub.
Sebelumnya, West Ham merupakan satu dari tiga klub bersama Aston Villa dan West Bromwich Albion kesulitan mendapatkan sponsor kostum. Kendati demikian, kesulitan menjaring sponsor juga bukan melulu karena kesalahan klub. Salah satu contohnya adalah kebangkrutan XL, perusahaan jasa liburan yang memasang iklannya di bagian dada kostum West Ham musim lalu.
Tapi tak ada kekhawatiran yang lebih besar pasca pengumuman ketua Asosiasi Sepakbola Inggris, Lord Triesman. Sepakbola Inggris dinyatakan memiliki total hutang sebesar 3 juta poundsterling (Rp 50 triliun). Dari jumlah itu, sepertiganya dikuasai oleh Manchester United, Liverpool dan Chesea -- tiga dari empat besar Liga Premier.
Situasi ini kemudian dijawab oleh UEFA dengan ancaman melarang tim dari Inggris dan negara lainnya untuk bermain di ajang Liga Champions jika belum bersih dari hutang. Sepakbola tentu tidak sepenuhnya kebal terhadap krisis keuangan. Keuntungan tahunan klub memang masih mengagumkan. Rekor transfer pemain pun masih bisa diciptakan. Pengamat mengatakan sepakbola adalah kelompok yang berani menentang krisis keuangan global. Menciptakan harga transfer pemain tertinggi di saat dunia ekonomi sedang lesu adalah bukti nyata.
Yang menjadi pertanyaan adalah seberapa besar pengaruh krisis keuangan dunia terhadap proyeksi keuntungan klub?
Sektor tiket pertandingan adalah yang paling rentan. Di Liga Premier sendiri harga tiket untuk sebagian besar klub semakin membumbung. Suporter menjerit karena harga itu terkadang di luar daya beli mereka. Jika tiket tak terbeli, besar kemungkinan fans juga enggan merogoh kocek untuk memborong merchandise. Dengan demikian akan ada penurunan keuntungan yang diperoleh klub, termasuk jika kemudian klub menurunkan harga tiketnya.
Pendapatan dari sektor match fee juga terancam. Apalagi jika klub itu dilarang tampil di Liga Champions atau Piala UEFA yang seperti diketahui punya uang tampil cukup besar bagi para peserta.
Tetapi resiko yang paling besar terdapat pada liga-liga di divisi bawah atau klub yang dimiliki oleh pengusaha lokal dan belum tersentuh oleh investor besar. Pengusaha lokal berskala kecil masih terikat erat dengan bank untuk mendapatkan kredit. Namun dalam situasi krisis seperti sekarang maka bank akan sulit mengeluarkan kredit.
Ini pula yang mungkin menjadi alasan Serie A Italia untuk memisahkan diri dengan Serie B dan membentuk Liga Super. Klub-klub Serie A merasa perlu menyelamatkan aliran dananya. Mereka enggan menyumbang dana lebih banyak, demi keseimbangan, kepada klub di divisi bawah yang justru sangat rentan resesi.
Krisis keuangan dunia yang sedang terjadi tak pelak memang harus diantisipasi. Klub seperti Liverpool yang berniat membangun stadion baru mungkin akan menundanya. Pembiayaan sudah pasti akan sulit dilakukan karena bank mulai berhitung secara cermat untuk memberi kredit.
Kemudian ada pula usulan agar Liga Premier mulai menerapkan pembatasan gaji (salary cap). Anggaran gaji yang di sebagian klub bisa mencapai 70 persen dari keuntungan tahunan klub dinilai sebagai pemborosan.
Soal pembatasan gaji ini juga masih menimbulkan prokontra. Dari kalangan pemain, Jamie Carragher, bintang Liverpool setuju adanya pembatasan gaji pemain karena ini bisa menekan pengeluaran klub yang mungkin akan kehilangan penonton di lapangan karena mahalnya harga tiket.
Sedangkan manajer Portsmouth Harry Redknapp malah tidak setuju dengan adanya salary cap ini, menurutnya pemain dengan kebintangannya layak untuk mendapat bayaran tinggi. Kita belum tahu bagaimana kabar dengan klub-klub bola basket, baseball, dan football yang ada di Amerika Serikat, namun dengan kebijakan salary cap yang mereka terapkan, kemungkinan kondisi mereka tidak terlalu parah meskipun AS dilanda krisis.
Olahraga memang kadang-kadang berbeda, pada situasi tertentu olahraga bisa menjadi sebuah oasis di tengah padang pasir. Olahraga tak ubahnya seperti sebuah panggung hiburan, dan dalam kondisi bagaimanapun orang pasti butuh hiburan. Karena itulah banyak yang berharap, meskipun dilanda krisis jangan sampai even olahraga terhenti. Karena kalau semua sudah terhenti, apalagi yang bisa dijadikan hiburan. (*)

Readmore »»

Rabu, 08 Oktober 2008

Likman Bangkrut, Wak Doso Ojok Sampek


Perekonomian Amerika Serikat yang begitu perkasa akhirnya berada di ambang kebangkrutan. Akibatnya seluruh dunia pun bingung karena terkena imbasnya. Apalagi negeri kita tercinta, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok, akibatnya Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan kegiatannya.
Apa sebenarnya yang terjadi? Pokoke ekonomi tambah sulit, gak lama lagi pasti Krismon koyok 1997 biyen.,” kata Wak Doso, pemilik Warung Kopi (Warkop) Giras di Simomagerejo. Warkop Wak Doso meskipun sederhana dengan menu khas Kopi Giras Gresik, gorengan, sego sadukan, es limun, dan segala macam jenis krupuk, kadang-kadang suasananya tak kalah dengan CafĂ© Sinar Bintoro karena sama-sama buka 24 jam plus dihibur teve Konka 29 inch.
Langganan yang nyangkruk di Warkop Wak Doso juga bukan sembarangan orang. Pegawai bank yang ngekos di kawasan situ, wartawan yang susah tidur kemudian cari kopi murah, dan para politisi-politisi embongan, para bakal caleg-caleg partai baru yang dapat nomor buncit, membuat Warkop Wak Doso yang sederhana kadang-kadang tak kalah dengan tempat-tempat kongkow kaum elite di Surabaya.
Omong-omong gaya warungan pun kadang-kadang berbobot. “Semua ini gara-gara Likman Broder. Likman bangkrut semua ikut bangkrut,” kata Wak Doso memulai pembicaraan pada Rabu (8/10) petang sesudah Isya’.
“Sopo Likman iku, Wak,” tanya Agus, karyawan sebuah bank pemerintah yang indekos di sekitar situ. “Wis embuh, pokoke Likman iku wong Amerika, katanya dia itu orang paling kaya di dunia ini. Kalau sing sugih ae bangkrut opo maneh liyane,” jawab Wak Doso.
Mendengar celotehan Wak Doso, para pengunjung warung tersenyum simpul. Karena mereka tahu siapa sebenarnya Likman yang dimaksud Wak Doso itu. Tapi sejujurnya mereka sebenarnya sama awamnya dengan Wak Doso, mengapa Likman Broder yang puluhan tahun begitu perkasa itu akhirnya loyo.
Apa sebenarnya yang terjadi, Agus yang karyawan bank dan Yudi yang wartawan bidang ekonomi secara bergantian memberi penjelasan di majelis Warkop Wak Doso. Amerika Serikat sedang mengalami krisis keuangan terburuk sejak krisis keuangan atau depresi besar yang terjadi pada 1929.
Pada krisis keuangan kali ini Pemerintah Amerika Serikat melakukan penyelamatan terbesar sejak krisis 1929 berupa pemberian dana talangan atau bantuan likuiditas kepada industri keuangannya yang bermasalah sebesar USD700 miliar atau setara dengan Rp6.500 triliun (bandingkan dengan krisis keuangan Indonesia tahun 1998-1999 yang memakan biaya sekitar Rp650 triliun). Bantuan dana talangan ini diputuskan melalui perdebatan panjang selama dua pekan, melibatkan para anggota Kongres dan kantor kepresidenan. Pelajaran berharga apakah yang dapat ditarik dari krisis keuangan tersebut?
Manajemen risiko yang baik dan perilaku yang hati-hati (prudential behaviour) tetap selalu diperlukan oleh setiap lembaga keuangan, termasuk oleh lembaga keuangan yang besar dan kuat seperti Lehman Brothers (Likman Broder katanya Wak Doso) yang pernah menjadi konsultan ekonomi Indonesia.
Tampaknya kelemahan di bidang manajemen risiko dan sikap yang kurang prudent menjadi penyebab utama timbulnya krisis keuangan di Amerika. Situasi ini diperburuk dengan diabaikannya unsur kualitatif di dalam manajemen risiko karena terlalu percaya pada unsur-unsur kuantitatif.
Bahkan krisis yang terjadi di Amerika ini diwarnai juga dengan perilaku yang manipulatif, serakah, penipuan dan koruptif. Misalnya oknum lembaga keuangan yang memperoleh komisi dari setiap transaksi yang dilakukannya. Hal ini sedang diselidiki oleh penegak hukum di Amerika Serikat.
“Dengan terjadinya krisis ini kita dibuat sadar bahwa kita tidak boleh terlalu percaya pada reputasi atau mitos dari lembaga keuangan yang selama ini terkenal hebat dan "sakti" seperti Lehman Brothers. Manajemen risiko yang baik dan sikap yang hati-hati tetap diperlukan dalam pengelolaan dana masyarakat yang ada pada lembaga keuangan,” jelas Agus berapi-api sambil sesekali nyruput Kopi Girasnya.
“Wis Mas Agus, ojok dowo-dowo. Sing penting apakah kita juga terkena imbasnya. Opo awake dewe urip tambah soro? Sergah Wak Doso. “Ya, mungkin saja Wak,” sela Yudi. Yudi yang terus ngebul dengan A-Mild-nya, juga galau dengan kondisi perekonomian sekarang ini. Bayaran mundhak pun menjadi sebuah harapan yang diharap-harap cemas. Demikian juga Agus, namun dia agak tenang karena sebagai pegawai bank sedikit banyak dia sudah punya sedikit simpanan. Beda dengan Yudi punya simpanan tanah yang dibeli dari mertuanya, tapi statusnya masih petok D.
Lalu bagaimana dengan Wak Doso? Meskipun juga khawatir dengan krismon seperti dulu yang katanya bakal terjadi. Pria asal Kecamatan Dukun Gresik itu tetap tenang. Filosofi bisnisnya sederhana tapi tetap mengena.
“Opo sing terjadi disyukuri ae rek, gak onok wong matek gara-gara mlarat. Minimal sik iso ngemis. Buat Saya, sak krismon-krismone wong sik tetap ngopi kanggo menghilangkan stres. Meskipun nantinya pelanggan berkurang, warung tetap buka karena masih banyak orang yang suka ngopi, nglamun thok kecut rek! luwih siiip karo ngopi. Likman sing sugih boleh bangkrut, tapi Wak Doso ojok sampek,” ikrar Wak Doso.
Mendengar tekad Wak Doso itu, Agus dan Yudi yang sebelumnya juga harap-harap cemas dengan kondisi ekonomi keluarga mereka. Akhirnya pun ikut optimistis, hidup dijalani seperti air mengalir saja. Apa yang terjadi, terjadilah. Sing penting tetep eling karo Allah SWT. “Allah menurunkan cobaan pasti sesuai dengan takaran kemampuan umat manusia. Artinya cobaan itu pasti bisa dihadapi,” bisik Yudi dalam hatinya mengingat ucapan ustadz ketika dia masih ngaji dulu di Darmokali. (rak)
.

Readmore »»

Inspirationa Quotation

"The big secret in life is that there is no big secret. Whatever your goal, you can get there if you're willing to work".

(Oprah Winfrey, American TV host, media mogul, and philanthropist)

kartun united





FIrman Allah SWT

"Innal hasanaat tushrifna sayyiaat" (Sesungguhnya kebaikan akan mengalahkan kejahatan) - (Hud:114).

  © Blogger template Spain by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP