Tampilkan postingan dengan label pssi jatim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pssi jatim. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 September 2008

Hore...Sepakbola Boleh Pakai APBD


KLUB-KLUB sepakbola di Indonesia mulai megap-megap, artinya nyawa mereka untuk mengarungi kompetisi Liga Super Indonesia (LSI) dan Divisi Utama tinggal menghitung hari saja sudah melayang. Paling nyata adalah Persik Kediri, sudah dua bulan pemain tidak gajian.
Bila itu terus terjadi, bukan tidak mungkin manajemen Persik memutuskan klub yang memiliki julukan Macan Putih mundur dari arena LSI pada putaran kedua nanti. Nasib ini tentu sebuah ironi bagi klub yang dua kali merebut Piala Presiden ini. Mengapa ini bisa terjadi? Jawabannya satu mereka tidak punya uang lagi akibat adanya larangan menggunakan dana APBD yang selama ini menjadi nyawa mereka untuk berkompetisi.
Benarkah klub sepakbola tidak boleh menggunakan dana APBD menyusul keluarnya Permendagri No: 59/2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah? Jawabannya ternyata tidak. Dengan kata lain dana APBD masih bisa digunakan untuk membiayai sebuah klub sepakbola.
Hal tersebut terungkap dalam Lokakarya Pembiayaan Sepakbola yang diadakan Pengda PSSI Jatim di Hotel Garden, Surabaya, Kamis (11/9).
Masyarakat bola tanah air selama ini salah tafsir bahwa APBD sudah tidak boleh disentuh sama sekali untuk membiayai klub sepak bola. Itu dijelaskan Hendriwan, wakil Depdagri yang hadir sebagai pembicara pada lokakarya tersebut.
Kasie Wilayah II B Direktorat Administrasi Anggaran Daerah itu menjelaskan, dana untuk klub sepakbola bisa disalurkan melalui hibah yang diberikan ke KONI, baru kemudian disalurkan kepada klub. ''Tapi, hibah ini harus disesuaikan dengan kondisi keuangan daerah, urgensi hibah, dan tidak terus-menerus,'' ujar Hendriwan.
Menurut Hendriwan, hal itu sudah dijelaskan pada Permendagri 59/2007 serta ditegaskan Mendagri Mardiyanto dengan Surat Edaran Mendagri Nomor 900/2677/BJ bertanggal 9 November 2007.
Tapi, dia juga memperingatkan, dana hibah itu harus bisa diawasi dengan transparan dan jika terjadi apa-apa, yang akan diperiksa adalah penerima hibah.
Hendriwan menyatakan, latar belakang keluarnya aturan pengetatan pengucuran APBD bagi sepakbola adalah klub terkesan berfoya-foya menghamburkan dana APBD, seperti yang terjadi di beberapa kabupaten/kota. ''Sebagai contoh, Kabupaten Sleman menganggarkan APBD Rp 19 miliar untuk PSS pada tahun lalu, padahal mereka baru saja terkena gempa,'' urainya.
Pemberian dana sepakbola melalui hibah sudah dilakukan Kabupaten Lamongan. M. Masfuk, bupati Lamongan yang hadir sebagai pembicara di sesi pertama, menyebutkan, Persela mendapat dana untuk mengarungi kompetisi LSI melalui dana hibah olahraga dari APBD yang diberikan lewat KONI Kabupaten Lamongan. ''Jumlah dananya Rp 17 miliar. Itu untuk seluruh cabor dan memang yang terbesar untuk mendanai Persela,'' papar ketua umum Persela Lamongan itu.
Selain Hendriwan dan Masfuk, narasumber lain yang hadir adalah Joko Driyono (direktur kompetisi BLI), Haryo Yuniarto (staf ahli bidang hukum Menpora), dan Saleh Ismail Mukadar (ketua umum Persebaya/KONI Surabaya). Ketua Umum Pengda PSSI Jatim Haruna Soemitro menjadi moderator.
Sementara itu, hasil lokakarya yang dihadiri 280 orang tersebut disimpulkan dalam sebuah rekomendasi. Ada lima poin yang termuat dalam rekomendasi itu. Pertama, pembiayaan sepakbola dari APBD masih diperkenankan hingga tiga tahun ke depan dan secara bertahap menurun sambil menunggu kemandirian klub. Kedua, pembiayaan sepak bola hendaknya diusulkan melalui APBD dengan persentasi, baik APBD/PAD. Ketiga, dana pembiayaan sepak bola dari APBD jangan disamakan dengan sistem peng-SPJ-an seperti layaknya SKPD (satuan kerja perangkat daerah). Keempat, pendanaan sepak bola dari APBD bersifat kelanjutan sesuai dengan UU No 3 Tahun 2005 pasal 70 ayat 1. Kelima, buat daerah-daerah yang mengalokasikan anggaran buat sepak bola yang sudah jadi perda, hal itu bisa direalisasikan. Hasil rekomendasi dari pertemuan di Surabaya ini, Kamis (12/9) akan dikirim ke instansi-instansi terkait, seperti Menpora, Mendagri, BPK, serta seluruh peserta. (*)

Readmore »»

Rabu, 20 Agustus 2008

Tim-Tim Jatim Terancam Gulung Tikar

Kompetisi sepakbola Liga Super Indonesia (LSI) dan Divisi Utama musim 2008/2009 yang belum lama diputar, terancam bubar di tengah jalan, menyusul kesulitan keuangan yang dihadapi sebagian besar klub kontestan kompetisi tersebut.
Sinyal negatif itu diungkapkan Ketua PSSI Jatim, Haruna Soemitro kepada wartawan di Surabaya, Rabu (20/8), terkait munculnya masalah pendanaan yang dialami klub-klub LSI dan divisi utama di Jatim.
"Kompetisi musim 2008 sangat berat. Mau terus dilanjutkan sulit, dihentikan juga sulit," katanya. Haruna mencontohkan sebagian besar klub asal Jatim, terutama yang masih mengandalkan pendanaan dari APBD, sudah kelimpungan dan kesulitan menyelesaikan pembayaran gaji pemain.
Bahkan, ada beberapa klub yang menunggak pembayaran gaji pemain hingga tiga bulan dan juga terlilit utang dengan pihak ketiga. Sejumlah klub LSI dan Divisi Utama di Jatim yang menghadapi masalah keuangan di antaranya Persik Kediri, Deltras Sidoarjo, Persibo Bojonegoro, Gresik United, Persekabpas Pasuruan, dan Persema Malang.
Kabarnya, Persik Kediri sudah mengirimkan surat kepada BLI mengenai masalah kesulitan dana yang dihadapi tersebut. "Sebenarnya dana yang dialokasikan dari APBD sudah ada, tapi mereka rata-rata tidak berani mencairkan karena khawatir tersangkut kasus hukum," jelas Haruna.
"Sebagai ketua PSSI Jatim, saya sering dimintai konsultasi oleh klub-klub. Keluhannya sama, masalah kesulitan dana dan kondisinya bisa dibilang sudah kronis," tambahnya.
Ia mengatakan masalah yang dihadapi klub-klub di Jatim, juga menimpa hampir sebagian besar klub peserta LSI dan divisi utama musim ini. "Otoritas sepakbola nasional, apakah PSSI atau BLI (Badan Liga Indonesia) harus segera mengambil langkah untuk menyelamatkan kompetisi yang sudah berjalan," ujarnya.

Semiloka Pembiayaan Sepakbola
PSSI Jatim sendiri tidak menutup mata dengan kondisi persepakbolaan nasional itu. Karenanya PSSI Jatim mengusulkan tiga opsi untuk mengatasi masalah tersebut, yakni kebijakan devaluasi atau penurunan harga pemain secara besar-besaran, karena selama ini kontrak dan gaji pemain menjadi beban berat klub.
"Devaluasi harga pemain mungkin bisa sampai 200 persen. Kalau itu bisa dilakukan, saya yakin klub masih bisa 'survive' karena tidak terlalu berat menanggung gaji pemain. Inti persoalannya adalah efisiensi keuangan," ujar Haruna Soemitro.
Opsi kedua adalah mengadendum manual liga, terutama menyangkut soal transfer dan perpindahan pemain agar bisa dipercepat dan tidak perlu menunggu putaran kedua, untuk membuka kesempatan bagi klub mendapatkan dana segar dari penjualan pemain.
Sedang opsi terakhir adalah meminta BLI untuk mengaudit keuangan klub, guna memetakan klub yang mampu dan tidak mampu. "Selanjutnya BLI bersedia memberikan pinjaman lunak kepada klub yang sedang dililit utang dengan masa pelunasan yang fleksibel. Kalau ketiga opsi itu tidak bisa segera diputuskan, kompetisi kita tinggal menunggu waktu," kata Haruna.
Pada kesempatan itu, Haruna Soemitro menambahkan bahwa PSSI Jatim berencana menggelar Semiloka tentang Pembiayaan Sepakbola Indonesia di Surabaya pada 9 September mendatang. Kegiatan itu rencananya akan menghadirkan pembicara dari berbagai kalangan, di antaranya Depdagri, PSSI, BLI, pengelola klub hingga praktisi bola di tanah air. "Dari Semiloka, diharapkan muncul solusi terbaik untuk memecahkan masalah yang kini dihadapi klub-klub sepakbola di Indonesia," pungkasnya.
. (rak)

Readmore »»

Inspirationa Quotation

"The big secret in life is that there is no big secret. Whatever your goal, you can get there if you're willing to work".

(Oprah Winfrey, American TV host, media mogul, and philanthropist)

kartun united





FIrman Allah SWT

"Innal hasanaat tushrifna sayyiaat" (Sesungguhnya kebaikan akan mengalahkan kejahatan) - (Hud:114).

  © Blogger template Spain by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP