Selasa, 13 Januari 2009

Implikasi Operasi Cast Lead Israel di Gaza


Oleh: Kapten Inf Kukuh Suharwiyono, B.S.*, Kontributor TANDEF

Konflik yang terjadi antara Israel dan Hamas sebenarnya telah terjadi
sejak puluhan tahun yang lalu. Hal ini semakin meruncing ketika Hamas
berhasil menguasai pemerintahan di Gaza melalui kudeta berdarah pada
Juni 2007. Gesekan antara kelompok garis keras Hamas dan Israel tidak
dapat dihindarkan hingga dicapai perjanjian 6-bulan gencatan senjata
yang berakhir pada 26 Desember 2008 lalu.

Momentum berakhirnya gencatan senjata ini dipandang Israel sebagai
awal strategis untuk menghancurkan kekuatan Hamas sampai ke akar-
akarnya. Seminggu sebelum gencatan senjata berakhir, Israel
menghentikan seluruh suplai makanan dan kebutuhan pokok lain yang
masuk ke Gaza di sepanjang jalur pantai dan darat. Hal ini menimbulkan
shortage logistik masyarakat Gaza umumnya dan pihak Hamas khususnya.
Hamas pun menjawab strategi Israel dengan menekan balik melalui
peningkatan aktivitas serangan roket ke Israel. Suatu reaksi yang
memang diharapkan oleh Israel sebagai pembenaran serangan balik Israel
ke Jalur Gaza. Sebuah sumber Departemen Pertahanan Israel yang tidak
mau disebutkan namanya berkata, "Kelihatannya operasi militer Israel
akan dimulai dengan serangan udara untuk melawan peluncuran roket dan
dilanjutkan dengan invasi darat." 1

Momentum ini juga sengaja dimanfaatkan oleh tokoh-tokoh Israel yang
mencalonkan diri sebagai Perdana Menteri untuk menaikkan popularitas
pada pemilihan umum tanggal 10 Februari 2009 nanti. Termasuk Menteri
Luar Negeri Tzipi Livni dan Menteri Pertahanan Ehub Barak yang saat
ini posisinya sangat tidak menguntungkan karena tekanan Benjamin
Netanyahu untuk mengambil langkah secepatnya terhadap keamanan Israel.
Namun, Livni lebih pandai dalam mengambil kesempatan. Dialah orang
Israel pertama yang menyatakan akan menyerang Hamas. Padahal, Ehud
Barak sebagai Menhan seharusnya yang paling berkesempatan mengambil
peluang ini.

Ketidakmampuan Ehud Barak bertindak cepat bukanlah tidak beralasan.
Setidaknya ada 3 alasan penting mengapa dia terlambat bersikap
dibandingkan dengan Menteri Luar Negeri dalam menyatakan perang
melawan Hamas. Pertama, moril tentara Israel masih rendah karena ekses
kekalahan perang musim panas 2006 di Lebanon sungguh diluar perkiraan
Israel, dimana ratusan personel dan tank Markava IDF (Israeli Defence
Force) diluluhlantakkan Hezbollah. Kedua, kekhawatiran yang besar juga
menyelimuti warga sipil dan personel IDF karena saat ini secara de
facto Israel masih memiliki konflik dengan 3 negara besar di jazirah
Arab; Iran, Syria, dan Lebanon dalam hal ini Hezbollah. Apabila Israel
membuka front dengan Hamas di perbatasan selatan, bukan tidak mungkin
Hezbollah, Iran dan Syria akan ikut membantu Hamas karena mereka
memiliki keterkaitan emosional dan politik. Ketiga, Ehud Barak kurang
percaya akan kemampuan Israel dalam mengambil keputusan pelik. Hal ini
terjadi pada kasus pembebasan seorang prajurit Israel bernama Gilead
Shalit yang telah ditahan oleh tentara Hamas lebih dari dua tahun.
Barak lebih memilih jalan diplomasi lewat Mesir daripada melakukan
negosiasi langsung antara Israel-Hamas .2

Serangan Udara Tidak Membawa Hasil

Serangan udara selama 5 hari yang dimulai tanggal 27 Desember 2008
dengan menggunakan pesawat F-16 dan helikopter Apache ternyata tidak
sesuai harapan. Tujuan Israel untuk "mengembalikan keamanan di
Selatan" dengan satu cara, yaitu menghentikan penembakan (roket) Hamas
ke Israel belum tercapai. Hamas masih mampu menembakkan sekitar 70
roket ke Israel dalam satu hari walaupun serangan udara dipergencar
dan lebih intensif dibanding perang melawan Hezbollah 2006. Bahkan
bisa dikatakan serangan udara Israel gagal, seperti pernyataan Jeffrey
White, seorang peneliti Washington Institute for Near East Policy
(WINEP) sekaligus mantan analis Defense Intelligence Agency,
"penggunaan angkatan udara Israel mampu menekan kemampuan Hamas untuk
melakukan serangan balik, namun akibat yang dihasilkan oleh Israel
juga dibawah pencapaian yang seharusnya bisa dipenuhi." 3

Keputusan melakukan invasi darat pada Operation Cast Lead ini sempat
menjadi perdebatan besar dan keraguan bagi kalangan ahli militer
Israel. Beberapa ahli militer mengatakan bahwa jika Israel ingin
melakukan invasi darat in full scale operation maka Israel harus
menyiapkan setidaknya 10.000 personel. Untuk itu, 6500 tentara
cadangan dikerahkan dalam rangka memperkuat IDF melakukan serangan
darat. Pertimbangan kedua adalah pengalaman perang 2006 dengan
Hezbollah membuktikan bahwa serangan darat akan beresiko tinggi jika
Hamas, yang memiliki roket sama dengan Hezbollah pada perang yang
lalu, belum sepenuhnya dihancurleburkan. Dan pertimbangan ketiga,
sikap presiden Amerika terpilih Barrack Obama yang hanya diam mengenai
pembunuhan etnis di Gaza dan situasi geopolitik regional Timur Tengah
menjadi tanda tanya besar bagi Israel. Israel belum meyakini bahwa
Obama akan berada dibelakang Israel dan memberikan restu terhadap
kepentingan politik dan keamanannya di Timur Tengah. Beberapa hal yang
mengindikasikan kebijakan Obama akan berseberangan dengan George W.
Bush diantaranya: rencana penarikan pasukan Amerika dari Iraq,
penolakan kampanye Global War on Terrorism, dan keinginan Obama untuk
menggunakan jalur diplomasi dalam membicarakan masalah nuklir Iran,
bukan melalui tindakan militer 4 . Namun dari semua pertimbangan
diatas, Israel menggarisbawahi indikasi ketidakberpihakan Obama pada
kebijakan politik Israel. Sehingga hari-hari terakhir Bush dikursi
kepresidenan dijadikan tumpuan untuk menunjukkan kemampuannya sebagai
kekuatan penentu di Timur Tengah.

Delapan hari penyerangan besar-besaran yang dilakukan Israel untuk
menghancurkan militansi Hamas baik lewat udara maupun darat ternyata
berbuah pahit. Hamas masih mampu menembakkan roket jauh kedalam
wilayah Israel walaupun berbagai markas Hamas dan infrastruktur
pemerintahan hancur, listrik diseluruh wilayah Gaza padam, suplai
bahan kebutuhan pokok serta bantuan medis menipis. Pertanyaan yang
muncul kemudian adalah, "apakah penghentian penembakan roket oleh
Hamas benar-benar akan tercapai ketika Hamas masih memegang kendali
pemerintahan di Gaza?"

Kontraproduktif bagi Israel dan IDF

Penyerangan Operation Cast Lead sebagai pembantaian etnis di Gaza,
pembersihan Hamas sampai ke akar-akarnya atau apapun itu sebutannya
bukanlah hal yang mudah. Walaupun kekuatan Hamas tidak sekuat
Hezbollah dan medan tempur Gaza tidak sesulit Lebanon Selatan, namun
Israel perlu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk mendapatkan
kemenangan mutlak. Kabinet Israel pun mulai meragukan keberhasilan
serangan ini. Dalam sebuah rapat pada hari kedelapan penyerangan
tentara Israel ke Hamas, kabinet Israel menyimpulkan "Hamas tidak
dapat ditumpas."5 Suatu kesimpulan yang sangat mengejutkan dan sulit
diterima.

Serangan yang memakan korban paling mengerikan sepanjang sejarah Gaza,
dimana didalamnya termasuk anak-anak, perempuan dan orang lanjut usia,
sama sekali tidak mengecilkan semangat Hamas dalam berjuang
mempertahankan wilayahnya. Bahkan simpati kepada Gaza semakin hari
semakin besar dan sebaliknya kecaman bertubi-tubi diteriakkan kepada
Israel dari sejumlah tokoh internasional. Bantuan kemanusiaan yang
dikirimkan dari berbagai penjuru dunia merupakan bukti nyata semakin
meluasnya simpati dunia internasional kepada penduduk Gaza, yang
secara tidak langsung juga berimbas kepada Hamas.

Keinginan Israel untuk membakar habis Hamas sampai ke akar-akarnya
ternyata berbuah dendam yang membara terhadap Israel disetiap sanubari
rakyat Gaza, bahkan janin yang masih didalam kandungan. Popularitas
Hamas di Palestina pun semakin naik seperti halnya Hezbollah di
Lebanon setelah memenangkan pertempuran 34 hari-nya. Kemenangan Hamas
pada pemilu legislatif 4 tahun lalu akan semakin menaikkan posisi
Hamas ke puncak tiang bendera aspirasi politik Palestina. Mereka
dipandang sebagai pejuang bangsa dalam mempertahankan kedaulatan
negara. Dan secara bersamaan akan menurunkan kredibilitas kelompok
pro-Barat, Fatah, pimpinan Mahmoud Abbas dinegaranya sendiri.
Pemerintahan Abbas yang dinilai korup oleh masyarakatnya akan
dipandang sebelah mata dan sebaliknya Hamas dapat menjadi alternatif
lain yang lebih baik. Seperti pernyataan seorang analis politik
Israel, Aluf Benn, pada 2 Januari 2009 di surat kabar Haaretz "Jika
perang ini berakhir imbang, seperti yang diprediksikan, dan Israel
gagal untuk menguasai kembali Gaza, maka Hamas akan memperoleh
pengakuan diplomatik."

Bagi Israel sendiri, waktu yang tersisa sampai Barrack Obama disumpah
untuk menduduki kursi kepresidenan Amerika Serikat pada 20 Januari
mendatang sangatlah sempit. Pertaruhan kredibilitas kemampuan
teknologi angkatan bersenjatanya yang disampaikan Perdana Menteri
Israel, Ehud Olmert, pada wawancara eksklusif berbahasa Arab di
saluran televisi Al Arabiya sebelum penyerangan pertama ke Gaza bahwa
"kami lebih kuat" menjadi beban berat dan hutang tak terbayarkan
Israel.

Jika Israel tidak mampu menyelesaikan pertarungan ini dengan absolute
victory maka perang ini menjadi kekalahan ke dua melawan non-state
enemy di Timur Tengah. Dampak terbesar yang akan muncul bagi bala
tentaranya adalah krisis kepercayaan diri. Padahal musuh bebuyutan
Israel di Lebanon, Hezbollah, saat ini mengaku memiliki kekuatan dan
persenjataan tiga kali lebih besar dibanding perang 2006. Sekjen
Hezbollah, Hassan Nasrallah, dalam pidatonya memperingati As Syura
awal tahun ini juga mengatakan bahwa Hezbollah telah memiliki roket
anti pesawat terbang jika Israel menyerang dan mengganggu ketenangan
Lebanon. Selain misil baru dengan jangkauan lebih jauh sampai ke Tel
Aviv atau Negev, Dimona, sebuah kota instalasi nuklir Israel berada.
Bagi penduduk Israel, hal ini berarti mimpi buruk yang akan selalu
menghantui dibawah bayang-bayang kekhawatiran dan serangan balik yang
lebih agresif dari Gaza kelak dikemudian hari.

Selanjutnya, Hamas pun akan memiliki bargaining position di meja
perundingan yang lebih menentukan untuk memaksakan tuntutan
penghapusan boikot ekonomi dan pembukaan jalur perbatasan darat yang
selama ini diberlakukan.

Pertaruhan Terakhir

Walaupun beberapa perwira militer Israel masih meyakini mereka akan
memenangkan peperangan ini 6 , namun pertanyaannya "Berapa lama waktu
yang dibutuhkan Israel untuk menghabisi Hamas?" Akhirnya, Israel harus
membuktikan bahwa taktik IDF yang digunakan dalam Operation Cast Lead
merupakan taktik paling ampuh untuk membungkam Hamas berapapun harga
yang harus dibayar. Jika tidak, maka Israel harus menyiapkan payung
perlindungan roket yang lebih canggih bagi keamanan warganya di masa
depan dalam mengantisipasi dendam kesumat masyarakat Gaza, selain
menciptakan taktik baru yang lebih kredibel komprehensif untuk
mempertahankan eksistensinya di jazirah Arab. Namun, hal ini sekaligus
berarti kemenangan mutlak bagi Hamas secara militer, politik dan
diplomasi interasional.

*Penulis saat ini masih bergabung dibawah Satgas Yonif Mekanis TNI
Konga XXIII-C/UNIFIL di Lebanon Selatan. Sebelum bergabung dalam
penugasan PBB, penulis menjabat sebagai Kaur Data & Statistik Spaban
I/Ren Spersad.
.

1 komentar:

Andri Faisal 18 Januari 2009 pukul 09.24  

Israel tidak akan menang. Allahu Akbar ti

Inspirationa Quotation

"The big secret in life is that there is no big secret. Whatever your goal, you can get there if you're willing to work".

(Oprah Winfrey, American TV host, media mogul, and philanthropist)

kartun united





FIrman Allah SWT

"Innal hasanaat tushrifna sayyiaat" (Sesungguhnya kebaikan akan mengalahkan kejahatan) - (Hud:114).

  © Blogger template Spain by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP